Duniaindustri.com (April 2026) — Ambisi Indonesia menjadi pusat global baterai kendaraan listrik (EV) berisiko meleset, seiring mayoritas produksi nikel nasional masih digunakan untuk industri baja tahan karat, bukan rantai pasok EV.
Laporan terbaru dari Centre for Research on Energy and Clean Air (Crea) yang dirilis Kamis (16/4) menunjukkan sekitar 83% output nikel Indonesia pada 2025 diserap sektor stainless steel, sementara hanya 17% yang masuk ke produksi baterai EV.
Temuan ini menyoroti kesenjangan antara narasi “green nickel” Indonesia dan realitas struktur industri hilirnya. Padahal, sebagai produsen nikel terbesar dunia, Indonesia selama ini gencar mendorong hilirisasi dan investasi baterai EV.
Analis Crea, Syahdiva Moezbar, menilai strategi berbasis EV Indonesia masih menghadapi tantangan kesiapan teknologi dan rantai pasok domestik. Ia menekankan pentingnya pengembangan teknologi pemurnian lanjutan seperti high-pressure acid leaching ( HPAL ) untuk menghasilkan produk bernilai tambah lebih tinggi dan mengurangi ketergantungan pada stainless steel.
Selain itu, laporan juga menyoroti ketergantungan besar industri nikel terhadap pembangkit listrik tenaga batu bara captive. Ekspansi smelter nikel diiringi peningkatan signifikan PLTU off-grid yang khusus menyuplai energi ke fasilitas pengolahan.
Crea mencatat industri ini terhubung dengan pipeline kapasitas PLTU captive hingga 31 gigawatt, yang sebagian dimungkinkan oleh celah regulasi dan klasifikasi dalam taksonomi hijau sebagai energi “transisi”.
Kondisi ini menciptakan risiko “carbon lock-in”, di mana fasilitas industri baru tidak dirancang untuk terhubung dengan energi terbarukan atau jaringan listrik nasional di masa depan.
Analis Crea lainnya, Katherine Hasan, menegaskan pengurangan ketergantungan pada batu bara captive menjadi kunci, baik dari sisi lingkungan maupun daya saing jangka panjang. Ia menyarankan pembangunan fasilitas baru lebih dekat dengan sumber energi terbarukan. “Transformasi ‘green nickel’ hanya akan nyata jika Indonesia menghentikan ketergantungan pada aset beremisi tinggi,” ujarnya.
Dari sisi pasar, strategi nikel Indonesia juga menghadapi tantangan dari tren teknologi baterai. Baterai tanpa nikel seperti lithium iron phosphate (LFP) kini semakin dominan, terutama di China, dengan pangsa lebih dari 80% karena biaya lebih rendah dan penggunaan lebih panjang.
Adopsi LFP oleh produsen otomotif China, baik di pasar domestik maupun negara berkembang, mengindikasikan banyak kendaraan listrik di pasar seperti Indonesia tidak lagi bergantung pada nikel.
Di sisi lain, kendaraan berbahan bakar fosil (ICE) masih mendominasi penjualan global. Karena nikel banyak digunakan dalam komponen stainless steel kendaraan konvensional, sebagian besar produksi Indonesia masih secara tidak langsung terkait dengan pasar ICE, bukan EV.
Crea juga mengingatkan bahwa ekspansi cepat industri nikel berpotensi mempercepat penurunan cadangan bijih berkadar tinggi, khususnya saprolit. Penurunan kualitas bijih ini berisiko meningkatkan konsumsi energi, biaya produksi, serta emisi ke depan.(*/berbagai sumber/tim redaksi 09)
Mari Simak Coverage Riset Data Spesifik Duniaindustri.com:
Market database
Manufacturing data
Market research data
Market leader data
Market investigation
Market observation
Market intelligence
Monitoring data
Market Survey/Company Survey
Multisource compilation data
Market domestic data
Market export data
Market impor data
Market directory database
Competitor profilling
Market distribution data
Company database/directory
Mapping competition trend
Profiling competitor strategy
Market data analysist
Historical data
Time series data
Tabulation data
Factory directory database
Market segmentation data
Market entry strategy analysist
Big data processor AI (data scarapping multi platform)
Financial Modeling/Feasibility Study
Price trend analysist
Data business intelligence
Customized Direktori Database* Butuh data spesifik atau riset pasar, total ada 324 database, klik di sini
** Butuh competitor intelligence, klik di sini
*** Butuh copywriter specialist, klik di sini
**** Butuh content provider (branding online), klik di sini
***** Butuh jasa medsos campaign, klik di siniDatabase Riset Data Spesifik Lainnya:
- Butuh data spesifik atau riset pasar, total ada 324 database, klik di sini
- Butuh 28 Kumpulan Database Otomotif, klik di sini
- Butuh 18 Kumpulan Riset Data Kelapa Sawit, klik di sini
- Butuh 20 Kumpulan Data Semen dan Beton, klik di sini
- Butuh 21 Kumpulan Riset Data Baja, klik di sini
- Butuh 15 Kumpulan Data Transportasi dan Infrastruktur, klik di sini
- Butuh 17 Kumpulan Data Makanan dan Minuman, klik di sini
- Butuh 9 Kumpulan Market Analysis Industri Kimia, klik di sini
- Butuh 7 Kumpulan Data Persaingan Pasar Kosmetik, klik di sini
- Butuh competitor intelligence ataupun riset khusus (survei & observasi), klik di sini
- Butuh copywriter specialist, klik di sini
- Butuh content provider (online branding), klik di sini
- Butuh market report dan market research, klik di sini
- Butuh perusahaan konsultan marketing dan penjualan, klik di sini
- Butuh menjaring konsumen korporasi dengan fitur customize direktori database perusahaan, klik di sini
Duniaindustri Line Up:

detektif industri pencarian data spesifik
Portofolio lainnya:

Buku “Rahasia Sukses Marketing, Direktori 2.552 Perusahaan Industri”
Atau simak video berikut ini:
Contoh testimoni hasil survei daerah:





Dunia Industri Pionir Berita dan Komunitas Industri Indonesia


