Latest News
You are here: Home | Umum | Meratapi Kelas Menengah Indonesia Ketika Suku Bunga Naik, Pertamax Naik, Daya Beli Makin Tercekik
Meratapi Kelas Menengah Indonesia Ketika Suku Bunga Naik, Pertamax Naik, Daya Beli Makin Tercekik

Meratapi Kelas Menengah Indonesia Ketika Suku Bunga Naik, Pertamax Naik, Daya Beli Makin Tercekik

Duniaindustri.com (Juni 2026) — Apa salah kelas menengah Indonesia sehingga setiap tekanan ekonomi selalu berakhir di kantong mereka? Pertanyaan ini layak diajukan ketika dua pukulan datang hampir bersamaan: suku bunga acuan naik dan harga Pertamax ikut naik.

Bank Indonesia menaikkan BI Rate menjadi 5,50 persen. Tidak lama setelah itu, harga Pertamax melonjak dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter. Bagi sebagian pengambil kebijakan, angka ini mungkin hanya deretan statistik di layar rapat.

“Akan tetapi bagi kelas menengah, itu adalah cicilan rumah yang makin mahal, cicilan kendaraan yang makin berat, biaya antar jemput anak yang naik, ongkos bekerja yang membengkak, dan tabungan yang makin cepat terkuras,” ujar Achmad Nur Hidayat, Ekonom dan Pakar Kebijakan Publik UPN Veteran Jakarta di Jakarta, kemarin.

Menurut dia, rumusan masalahnya sederhana, tetapi menyakitkan. Mengapa kelas menengah yang selama ini menjadi tulang punggung konsumsi nasional justru terus diperlakukan sebagai bantalan kebijakan?

“Ketika negara perlu menjaga rupiah, bunga dinaikkan. Ketika harga energi disesuaikan, pengguna BBM nonsubsidi yang mayoritas berasal dari kelas menengah langsung menanggung beban,” paparnya.

Ketika bantuan sosial dibagikan, mereka sering dianggap terlalu mampu untuk dibantu. Tetapi ketika pajak, bunga kredit, tarif, dan harga energi naik, mereka selalu dianggap cukup kuat untuk menanggungnya. Indonesia tidak bisa terus meratapi turunnya kelas menengah sambil membiarkan kebijakan ekonomi bekerja seperti mesin pemeras daya beli. Kelas menengah bukan sekadar kelompok pendapatan.

“Mereka adalah fondasi pasar domestik, pembayar pajak, penyerap kredit perbankan, pengguna transportasi, pembeli rumah, pembayar pendidikan, dan penggerak konsumsi. Jika kelas ini rapuh, ekonomi nasional akan kehilangan penyangga utamanya,” jelasnya.

Kelas Menengah Seperti Jembatan yang Terus Dilewati, tetapi Jarang Dirawat

Kelas menengah Indonesia ibarat jembatan utama di sebuah kota. Semua kendaraan melewatinya: konsumsi, pajak, kredit, pendidikan, perumahan, transportasi, dan investasi keluarga. Namun, lanjut dia, jembatan itu jarang diperbaiki. Ketika retak, pemerintah hanya memasang rambu hati hati. Ketika makin rapuh, beban kendaraan justru ditambah.

Pada akhirnya, yang ditakutkan bukan hanya jembatan itu runtuh, tetapi seluruh arus ekonomi ikut tersendat. BPS pernah menunjukkan bahwa kelas menengah dan kelompok menuju kelas menengah memiliki peran sangat besar dalam konsumsi nasional.

Kedua kelompok ini mencakup lebih dari separuh penduduk dan menyumbang lebih dari delapan puluh persen konsumsi masyarakat. Ini artinya, ketika kelas menengah melemah, yang melemah bukan sekadar gaya hidup. Yang melemah adalah mesin utama pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Data lain lebih mencemaskan. Jumlah kelas menengah turun dari 57,33 juta orang pada 2019 menjadi 47,85 juta orang pada 2024. Ini artinya, hampir 9,5 juta orang keluar dari kategori kelas menengah dalam lima tahun. Ini bukan penurunan kecil. Ini adalah alarm sosial ekonomi. Mereka yang dulu mampu menabung, mencicil rumah, membeli asuransi, menyekolahkan anak dengan lebih layak, dan sesekali berwisata, kini harus menghitung ulang pengeluaran paling dasar.

Kenaikan suku bunga dan Pertamax masuk ke ruang hidup yang sudah sempit. Kelas menengah bukan orang kaya yang punya cadangan aset besar. Mereka juga bukan kelompok miskin yang otomatis masuk daftar perlindungan sosial. Mereka berada di tengah, tampak stabil dari luar, tetapi rapuh dari dalam.

Gaji masuk tiap bulan, tetapi habis sebelum bulan berakhir. Ada kendaraan, tetapi bensinnya makin mahal. Ada rumah, tetapi cicilannya makin berat. Ada pekerjaan, tetapi penghasilannya tidak selalu naik secepat harga.(*/tim redaksi 09)

Mari Simak Coverage Riset Data Spesifik Duniaindustri.com:

Market database
Manufacturing data
Market research data
Market leader data
Market investigation
Market observation
Market intelligence
Monitoring data
Market Survey/Company Survey
Multisource compilation data
Market domestic data
Market export data
Market impor data
Market directory database
Competitor profilling
Market distribution data
Company database/directory
Mapping competition trend
Profiling competitor strategy
Market data analysist
Historical data
Time series data
Tabulation data
Factory directory database
Market segmentation data
Market entry strategy analysist
Big data processor AI (data scarapping multi platform)
Financial Modeling/Feasibility Study
Price trend analysist
Data business intelligence
Customized Direktori Database

* Butuh data spesifik atau riset pasar, total ada 321 database, klik di sini
** Butuh competitor intelligence, klik di sini
*** Butuh copywriter specialist, klik di sini
**** Butuh content provider (branding online), klik di sini
***** Butuh jasa medsos campaign, klik di sini

Database Riset Data Spesifik Lainnya:

  • Butuh data spesifik atau riset pasar, total ada 321 database, klik di sini
  • Butuh 28 Kumpulan Database Otomotif, klik di sini
  • Butuh 18 Kumpulan Riset Data Kelapa Sawit, klik di sini
  • Butuh 20 Kumpulan Data Semen dan Beton, klik di sini
  • Butuh 21 Kumpulan Riset Data Baja, klik di sini
  • Butuh 15 Kumpulan Data Transportasi dan Infrastruktur, klik di sini
  • Butuh 17 Kumpulan Data Makanan dan Minuman, klik di sini
  • Butuh 9 Kumpulan Market Analysis Industri Kimia, klik di sini
  • Butuh 7 Kumpulan Data Persaingan Pasar Kosmetik, klik di sini
  • Butuh competitor intelligence ataupun riset khusus (survei & observasi), klik di sini
  • Butuh copywriter specialist, klik di sini
  • Butuh content provider (online branding), klik di sini
  • Butuh market report dan market research, klik di sini
  • Butuh perusahaan konsultan marketing dan penjualan, klik di sini
  • Butuh menjaring konsumen korporasi dengan fitur customize direktori database perusahaan, klik di sini

Duniaindustri Line Up:

detektif industri pencarian data spesifik

Portofolio lainnya:

Buku “Rahasia Sukses Marketing, Direktori 2.552 Perusahaan Industri”

Atau simak video berikut ini:

Contoh testimoni hasil survei daerah:

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top