Duniaindustri.com (Juni 2026) — Pemerintah membebaskan Bea Masuk impor liquefied petroleum gas (LPG) untuk industri petrokimia dan bahan baku plastik sebagai bagian dari paket stimulus ekonomi semester II-2026. Langkah tersebut diambil untuk membantu industri menghadapi lonjakan biaya produksi akibat kenaikan harga energi dan bahan baku di tengah ketidakpastian global, termasuk dampak konflik di Timur Tengah.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengatakan kebijakan tersebut merupakan arahan Presiden untuk menjaga daya saing industri nasional sekaligus memastikan ketersediaan bahan baku alternatif pengganti nafta yang harganya terus berfluktuasi.
“Pemerintah menetapkan Bea Masuk 0 persen untuk impor LPG bagi industri petrokimia,” ujar Airlangga dalam konferensi pers di Jakarta, Senin.
Menurut pemerintah, insentif tersebut diperkirakan mampu menciptakan manfaat ekonomi hingga Rp2,25 triliun melalui penurunan biaya produksi pada sektor terkait dan efek pengganda terhadap aktivitas ekonomi nasional.
Tarif Bea Masuk LPG yang sebelumnya sebesar 5% dipangkas menjadi 0% guna mengurangi tekanan kenaikan harga LPG yang dipicu gejolak geopolitik global. Selain itu, pembebasan Bea Masuk bahan baku plastik diharapkan membantu menjaga stabilitas harga produk kemasan, terutama untuk industri makanan dan minuman yang masih sangat bergantung pada plastik.
Airlangga menilai kebijakan tersebut juga berpotensi menahan laju inflasi karena kemasan plastik masih menjadi komponen penting dalam rantai pasok berbagai produk konsumsi sehari-hari.
Selain sektor petrokimia dan plastik, pemerintah juga membebaskan Bea Masuk impor suku cadang pesawat untuk mendukung industri penerbangan dan sektor maintenance, repair, and overhaul (MRO) nasional agar lebih kompetitif.
Emiten yang Berpotensi Diuntungkan
Analis menilai kebijakan ini berpotensi memberikan sentimen positif bagi sejumlah emiten yang memiliki eksposur besar terhadap bahan baku petrokimia dan plastik.
Di sektor petrokimia, perusahaan seperti Chandra Asri Pacific (TPIA) berpotensi memperoleh fleksibilitas lebih besar dalam pengadaan bahan baku dan efisiensi biaya produksi.
Sementara itu, emiten kemasan dan manufaktur berbasis plastik seperti Champion Pacific Indonesia (IGAR), Asiaplast Industries (APLI), serta Trias Sentosa (TRST) berpotensi menikmati penurunan biaya bahan baku apabila harga resin dan produk petrokimia ikut terkoreksi.
Di sektor barang konsumsi, perusahaan makanan dan minuman seperti Indofood CBP Sukses Makmur (ICBP), Mayora Indah (MYOR), dan Ultra Jaya Milk Industry (ULTJ) juga berpotensi memperoleh manfaat tidak langsung melalui penurunan biaya kemasan.
Meski demikian, besarnya dampak positif terhadap kinerja emiten akan bergantung pada kecepatan transmisi penurunan biaya impor ke harga bahan baku domestik serta kondisi permintaan pasar pada paruh kedua 2026. Bagi pasar modal, kebijakan ini dipandang sebagai langkah pemerintah untuk menjaga daya saing sektor manufaktur dan meredam tekanan inflasi di tengah volatilitas harga energi global.(*/berbagai sumber/tim redaksi 09)
Mari Simak Coverage Riset Data Spesifik Duniaindustri.com:
Market database
Manufacturing data
Market research data
Market leader data
Market investigation
Market observation
Market intelligence
Monitoring data
Market Survey/Company Survey
Multisource compilation data
Market domestic data
Market export data
Market impor data
Market directory database
Competitor profilling
Market distribution data
Company database/directory
Mapping competition trend
Profiling competitor strategy
Market data analysist
Historical data
Time series data
Tabulation data
Factory directory database
Market segmentation data
Market entry strategy analysist
Big data processor AI (data scarapping multi platform)
Financial Modeling/Feasibility Study
Price trend analysist
Data business intelligence
Customized Direktori Database* Butuh data spesifik atau riset pasar, total ada 321 database, klik di sini
** Butuh competitor intelligence, klik di sini
*** Butuh copywriter specialist, klik di sini
**** Butuh content provider (branding online), klik di sini
***** Butuh jasa medsos campaign, klik di siniDatabase Riset Data Spesifik Lainnya:
- Butuh data spesifik atau riset pasar, total ada 321 database, klik di sini
- Butuh 28 Kumpulan Database Otomotif, klik di sini
- Butuh 18 Kumpulan Riset Data Kelapa Sawit, klik di sini
- Butuh 20 Kumpulan Data Semen dan Beton, klik di sini
- Butuh 21 Kumpulan Riset Data Baja, klik di sini
- Butuh 15 Kumpulan Data Transportasi dan Infrastruktur, klik di sini
- Butuh 17 Kumpulan Data Makanan dan Minuman, klik di sini
- Butuh 9 Kumpulan Market Analysis Industri Kimia, klik di sini
- Butuh 7 Kumpulan Data Persaingan Pasar Kosmetik, klik di sini
- Butuh competitor intelligence ataupun riset khusus (survei & observasi), klik di sini
- Butuh copywriter specialist, klik di sini
- Butuh content provider (online branding), klik di sini
- Butuh market report dan market research, klik di sini
- Butuh perusahaan konsultan marketing dan penjualan, klik di sini
- Butuh menjaring konsumen korporasi dengan fitur customize direktori database perusahaan, klik di sini
Duniaindustri Line Up:

detektif industri pencarian data spesifik
Portofolio lainnya:

Buku “Rahasia Sukses Marketing, Direktori 2.552 Perusahaan Industri”
Atau simak video berikut ini:
Contoh testimoni hasil survei daerah:





Dunia Industri Pionir Berita dan Komunitas Industri Indonesia


