Latest News
You are here: Home | Kimia | Jumlah Pemain Industri Kosmetik Terus Tumbuh Jadi 1.500 Perusahaan, Tak Terhalang Turbulensi Ekonomi
Jumlah Pemain Industri Kosmetik Terus Tumbuh Jadi 1.500 Perusahaan, Tak Terhalang Turbulensi Ekonomi

Jumlah Pemain Industri Kosmetik Terus Tumbuh Jadi 1.500 Perusahaan, Tak Terhalang Turbulensi Ekonomi

Duniaindustri.com (Mei 2026) — Kementerian Perindustrian melalui Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (Ditjen IKMA) bersama Perhimpunan Perusahaan Kosmetika Indonesia (Perkosmi) terus memperkuat ekosistem industri kecil dan menengah (IKM) kosmetik nasional melalui pengembangan kemitraan dan perluasan rantai pasok lokal. Langkah ini menjadi bagian dari upaya strategis pemerintah dalam meningkatkan daya saing industri kosmetik nasional di tengah pertumbuhan pasar yang semakin dinamis, baik di tingkat domestik maupun global.

Industri kosmetik nasional menunjukkan pertumbuhan yang positif dalam beberapa tahun terakhir. Berdasarkan data Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), jumlah industri kosmetik dalam negeri meningkat dari 1.292 industri pada tahun 2024 menjadi lebih dari 1.500 industri pada akhir 2025.

Sebesar 90 persen dari jumlah tersebut merupakan sektor IKM. Selain itu, nilai ekspor industri kosmetik juga mengalami kenaikan dari USD417 juta pada tahun 2024 menjadi USD473,8 juta pada tahun 2025.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyampaikan, industri kosmetik merupakan salah satu sektor yang memiliki prospek sangat baik karena didukung oleh permintaan pasar yang terus meningkat. Menurutnya, pertumbuhan jumlah pelaku usaha perlu diimbangi dengan penguatan kualitas, inovasi, dan ekosistem industri yang semakin solid.

“Industri kosmetik merupakan salah satu sektor yang memiliki prospek sangat baik karena didukung oleh permintaan pasar yang terus meningkat. Dengan jumlah pelaku usaha yang semakin besar, kami berharap industri ini tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan konsumen domestik, tetapi juga memperluas kontribusinya terhadap ekspor dan pertumbuhan ekonomi nasional,” kata Menperin dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (19/5).

Agus menambahkan, di balik pertumbuhan industri kosmetik yang positif, pelaku IKM masih menghadapi sejumlah tantangan. “Berbagai kendala yang dihadapi IKM kosmetik membutuhkan penyelesaian secara kolaboratif. Pemerintah pusat dan daerah, asosiasi, akademisi, industri besar hingga masyarakat memiliki peran penting dalam membangun ekosistem yang saling terhubung dan memberikan manfaat bagi seluruh pihak,” tegasnya.

Menurut Menperin, kemitraan memiliki peran penting dalam memperkuat daya saing IKM kosmetik nasional. Melalui hubungan kemitraan, pelaku IKM dapat memperoleh kemudahan dalam pengadaan bahan baku dan bahan penolong melalui maklon, memperluas akses distribusi dan pemasaran, hingga menjadi bagian dari rantai pasok industri besar. “Dengan demikian, tercipta ekosistem industri yang saling menguntungkan dan berkelanjutan,” imbuhnya.

Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Reni Yanita menjelaskan, pengembangan IKM kosmetik dilakukan melalui kolaborasi multipihak yang melibatkan pemerintah daerah, asosiasi, BPOM, perguruan tinggi, lokapasar, ritel, hingga industri besar. “Para pemangku kepentingan ini tidak hanya bersinergi dengan Ditjen IKMA, tetapi juga telah menjalin kemitraan langsung dengan pelaku IKM kosmetika,” ujarnya.

Sebagai implementasi dari langkah tersebut, Ditjen IKMA menyelenggarakan Pre-Event Temu Bisnis bertema Local Supply Chain for Cosmetic Industry pada 6–8 Mei 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta Utara. Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian pameran Indonesia Cosmetics Ingredients (ICI) 2026 yang diinisiasi oleh Perkosmi.

Reni menjelaskan, kegiatan pre-event tersebut menjadi tahapan awal sebelum pelaksanaan temu bisnis utama yang akan digelar pada September mendatang. Dalam kegiatan ini, Ditjen IKMA memfasilitasi booth selama pameran berlangsung guna mempertemukan pelaku IKM dengan calon mitra usaha.

“Kehadiran booth ini berperan penting sebagai sarana pertemuan antara pelaku IKM dengan calon mitra bisnis untuk memperluas jejaring, membuka peluang kemitraan, dan menjajaki kerja sama yang berpotensi meningkatkan transaksi maupun investasi di sektor kosmetik nasional,” jelasnya.

Lebih lanjut, para pelaku IKM juga diberikan kesempatan untuk melakukan identifikasi kebutuhan dan penjajakan awal dengan berbagai mitra pendukung, termasuk pemasok bahan baku, jasa maklon, penyedia kemasan, hingga jaringan distribusi. Kegiatan ini diharapkan mampu memperkuat jejaring usaha sekaligus membuka peluang hilirisasi bahan baku lokal yang dapat memberikan kontribusi nyata terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.

Direktur IKM Kimia, Sandang, dan Kerajinan, Budi Setiawan menyampaikan bahwa Ditjen IKMA akan terus memantau tindak lanjut hasil pertemuan bisnis guna memperkuat ekosistem industri kosmetik nasional. Sebanyak 29 IKM kosmetik binaan turut hadir dalam pre-event business matching tersebut dan diharapkan dapat memanfaatkan ajang ICI 2026 untuk memperluas jaringan bisnis dengan pelaku industri di ekosistem kosmetik nasional.

“Saat ini para IKM telah mulai mengirimkan sampel produk kepada calon mitra potensial dan kami akan terus mengawal hasil dari pertemuan bisnis ini untuk memastikan terciptanya ekosistem industri kosmetik yang mandiri, kompetitif, dan berkelanjutan,” pungkas Budi.(*/tim redaksi 09)

Mari Simak Coverage Riset Data Spesifik Duniaindustri.com:

Market database
Manufacturing data
Market research data
Market leader data
Market investigation
Market observation
Market intelligence
Monitoring data
Market Survey/Company Survey
Multisource compilation data
Market domestic data
Market export data
Market impor data
Market directory database
Competitor profilling
Market distribution data
Company database/directory
Mapping competition trend
Profiling competitor strategy
Market data analysist
Historical data
Time series data
Tabulation data
Factory directory database
Market segmentation data
Market entry strategy analysist
Big data processor AI (data scarapping multi platform)
Financial Modeling/Feasibility Study
Price trend analysist
Data business intelligence
Customized Direktori Database

* Butuh data spesifik atau riset pasar, total ada 321 database, klik di sini
** Butuh competitor intelligence, klik di sini
*** Butuh copywriter specialist, klik di sini
**** Butuh content provider (branding online), klik di sini
***** Butuh jasa medsos campaign, klik di sini

Database Riset Data Spesifik Lainnya:

  • Butuh data spesifik atau riset pasar, total ada 321 database, klik di sini
  • Butuh 28 Kumpulan Database Otomotif, klik di sini
  • Butuh 18 Kumpulan Riset Data Kelapa Sawit, klik di sini
  • Butuh 20 Kumpulan Data Semen dan Beton, klik di sini
  • Butuh 21 Kumpulan Riset Data Baja, klik di sini
  • Butuh 15 Kumpulan Data Transportasi dan Infrastruktur, klik di sini
  • Butuh 17 Kumpulan Data Makanan dan Minuman, klik di sini
  • Butuh 9 Kumpulan Market Analysis Industri Kimia, klik di sini
  • Butuh 7 Kumpulan Data Persaingan Pasar Kosmetik, klik di sini
  • Butuh competitor intelligence ataupun riset khusus (survei & observasi), klik di sini
  • Butuh copywriter specialist, klik di sini
  • Butuh content provider (online branding), klik di sini
  • Butuh market report dan market research, klik di sini
  • Butuh perusahaan konsultan marketing dan penjualan, klik di sini
  • Butuh menjaring konsumen korporasi dengan fitur customize direktori database perusahaan, klik di sini

Duniaindustri Line Up:

detektif industri pencarian data spesifik

Portofolio lainnya:

Buku “Rahasia Sukses Marketing, Direktori 2.552 Perusahaan Industri”

Atau simak video berikut ini:

Contoh testimoni hasil survei daerah:

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top