Duniaindustri.com (Juli 2026) — Kenaikan harga obat dinilai semakin membebani kondisi finansial masyarakat, terutama bagi mereka yang membutuhkan perawatan rutin. Kementerian Kesehatan pada 11 Juni 2026 menetapkan penyesuaian harga obat komersial swasta sebesar 20% untuk mengendalikan pasar dan melindungi masyarakat dari lonjakan harga yang tidak terkendali.
Seiring dengan itu, Allianz Indonesia mempublikasikan catatan tren kenaikan biaya obat telah berlangsung sejak 2022 dan tertinggi terjadi pada tahun 2023 yakni sebesar 11%.
Chief Technical Officer Allianz Life Indonesia, Brandon Heng, mengatakan harga obat memang bukan komponen terbesar dalam inflasi medis. Namun, kenaikannya terus terjadi setiap tahun sehingga memberikan tekanan terhadap biaya kesehatan.
“Harga obat memang bukan komponen tertinggi dalam inflasi medis. Namun berdasarkan data kami, harga obat terus meningkat sekitar 6-15% setiap tahunnya. Karena itu, kami mengapresiasi upaya Kementerian Kesehatan dalam menetapkan batas maksimal penyesuaian harga obat, karena penetapan ini turut membantu mengendalikan tekanan inflasi medis,” ujar Brandon Heng dalam keterangan tertulis, Senin (13/7/2026).
Menurut Allianz, kenaikan biaya obat dipengaruhi berbagai faktor, termasuk fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing yang berdampak pada harga bahan baku dan obat impor. Di sisi lain, inflasi medis di Indonesia diproyeksikan mencapai 17,6% pada 2026, lebih tinggi dibandingkan inflasi umum.
Adapun kelompok yang paling rentan terhadap kenaikan harga obat adalah masyarakat yang menjalani pengobatan jangka panjang, seperti penderita diabetes, penyakit jantung, hipertensi, dan penyakit kronis lainnya. Tercatat, pada 2025 harga obat untuk pengobatan diabetes meningkat 10% sedangkan obat hipertensi naik hingga 15%.
Lebih lanjut, kenaikan beban biaya kesehatan tidak hanya dirasakan oleh pasien penyakit kronis tetapi juga rawat jalan. Berdasarkan data tahun 2025, tagihan obat layanan rawat jalan (outpatient) justru didominasi penyakit yang umum terjadi seperti Infeksi Saluran Pernapasan Akut Atas (ISPA) mencapai 32.519 kasus, radang tenggorokan sebanyak 8.581 kasus, serta demam dan pilek sebanyak 7.728 kasus.
Head of Health Analytics Allianz Life Indonesia, dr. Tubagus Argie, mengatakan penyakit ringan yang berulang juga dapat menjadi sumber pengeluaran yang signifikan bagi rumah tangga. “Masyarakat sering kali hanya mengantisipasi biaya ketika menghadapi penyakit berat. Padahal, penyakit yang umum terjadi seperti ISPA, radang tenggorokan, maupun demam dan pilek juga tetap membutuhkan pengobatan. Ketika penyakit tersebut terjadi berulang, terutama dalam satu keluarga, akumulasi biayanya dapat menjadi cukup signifikan,” ujarnya.
Tren tersebut berlajut hingga kuartal I-2026 di mana data klaim Allianz mencatatkan ISPA menjadi penyakit yang paling banyak diklaim dengan 10.026 kasus, disusul diare 3.741 kasus, radang tenggorokan 2.795 kasus, demam 2.394 kasus, dan batuk pilek 2.369 kasus.
“Hal ini menjadi pengingat bahwa ketika seseorang jatuh sakit, biaya yang dikeluarkan bukan hanya berasal dari tindakan medis atau biaya konsultasi dokter, tetapi juga dari kebutuhan obat yang sering kali luput dari perhitungan. Di tengah tren kenaikan biaya kesehatan, masyarakat perlu mempersiapkan perlindungan kesehatan sebagai langkah antisipasi terhadap risiko kesehatan sekaligus beban finansial akibat kebutuhan pengobatan yang tidak terduga,” tutup dr. Tubagus Argie.(*/berbagai sumber/tim redaksi 09)
Mari Simak Coverage Riset Data Spesifik Duniaindustri.com:
Market database
Manufacturing data
Market research data
Market leader data
Market investigation
Market observation
Market intelligence
Monitoring data
Market Survey/Company Survey
Multisource compilation data
Market domestic data
Market export data
Market impor data
Market directory database
Competitor profilling
Market distribution data
Company database/directory
Mapping competition trend
Profiling competitor strategy
Market data analysist
Historical data
Time series data
Tabulation data
Factory directory database
Market segmentation data
Market entry strategy analysist
Big data processor AI (data scarapping multi platform)
Financial Modeling/Feasibility Study
Price trend analysist
Data business intelligence
Customized Direktori Database* Butuh data spesifik atau riset pasar, total ada 327 database, klik di sini
** Butuh competitor intelligence, klik di sini
*** Butuh copywriter specialist, klik di sini
**** Butuh content provider (branding online), klik di sini
***** Butuh jasa medsos campaign, klik di siniDatabase Riset Data Spesifik Lainnya:
- Butuh data spesifik atau riset pasar, total ada 327 database, klik di sini
- Butuh 28 Kumpulan Database Otomotif, klik di sini
- Butuh 18 Kumpulan Riset Data Kelapa Sawit, klik di sini
- Butuh 20 Kumpulan Data Semen dan Beton, klik di sini
- Butuh 21 Kumpulan Riset Data Baja, klik di sini
- Butuh 15 Kumpulan Data Transportasi dan Infrastruktur, klik di sini
- Butuh 17 Kumpulan Data Makanan dan Minuman, klik di sini
- Butuh 9 Kumpulan Market Analysis Industri Kimia, klik di sini
- Butuh 7 Kumpulan Data Persaingan Pasar Kosmetik, klik di sini
- Butuh competitor intelligence ataupun riset khusus (survei & observasi), klik di sini
- Butuh copywriter specialist, klik di sini
- Butuh content provider (online branding), klik di sini
- Butuh market report dan market research, klik di sini
- Butuh perusahaan konsultan marketing dan penjualan, klik di sini
- Butuh menjaring konsumen korporasi dengan fitur customize direktori database perusahaan, klik di sini
Duniaindustri Line Up:

detektif industri pencarian data spesifik
Portofolio lainnya:

Buku “Rahasia Sukses Marketing, Direktori 2.552 Perusahaan Industri”
Atau simak video berikut ini:
Contoh testimoni hasil survei daerah:





Dunia Industri Pionir Berita dan Komunitas Industri Indonesia


