Latest News
You are here: Home | Farmasi | Paradoks Kelas Menengah di Indonesia, Menahan Konsumsi dan Banyak yang Downgrade
Paradoks Kelas Menengah di Indonesia, Menahan Konsumsi dan Banyak yang Downgrade

Paradoks Kelas Menengah di Indonesia, Menahan Konsumsi dan Banyak yang Downgrade

Duniaindustri.com (Januari 2026) — Mengapa orang Indonesia tiba tiba menahan konsumsi dan memilih menebalkan tabungan, seperti tercermin dalam Survei Konsumen Bank Indonesia beberapa bulan terakhir? Pertanyaan ini sederhana, tetapi jawabannya tidak bisa berhenti pada satu kalimat “masyarakat sedang berhati hati”.

Sebab yang kita hadapi bukan satu perilaku masyarakat, melainkan dua wajah Indonesia yang bergerak berlawanan arah. Survei Konsumen BI untuk Desember 2025 mencatat proporsi pendapatan untuk konsumsi berada di 74,3 persen, sementara proporsi tabungan naik menjadi 14,9 persen. Pada saat yang sama, Indeks Keyakinan Konsumen tetap kuat di 123,5.

“Sepintas ini kabar baik: masyarakat optimistis, konsumsi sedikit menurun, tabungan meningkat. Namun angka rata rata sering seperti foto udara sebuah kota. Dari atas tampak rapi, tetapi kita tidak melihat gang sempit yang tergenang,” ujar Achmad Nur Hidayat, Ekonom dan Pakar Kebijakan Publik, UPN Veteran Jakarta, dalam keterangan tertulis, kemarin.

Masalahnya begini. Dia menjelaskan, di satu sisi, kelompok menengah ke atas memang terlihat membaik. Mereka menumpuk tabungan, memperkuat dana darurat, dan menunda belanja yang tidak wajib. Di sisi lain, ada kelompok menengah yang sedang turun kelas.

Daya belinya menurun, tabungannya tergerus, dan perilakunya makin mirip masyarakat bawah, yakni mengutamakan bertahan hidup dan pada titik tertentu membutuhkan bantuan pemerintah.

Bayangkan perekonomian sebagai perahu dua dek yang berlayar di laut yang ombaknya tidak menentu. Penumpang di dek atas melihat langit masih cerah. Mereka memilih mengenakan jaket pelampung, menyimpan barang berharga lebih rapat, dan menunggu ombak reda sebelum berjalan ke restoran. Itulah menengah ke atas: menahan konsumsi karena pilihan, bukan paksaan.

Sementara itu, penumpang di dek bawah mulai merasakan air masuk dari celah. Mereka tidak punya kemewahan memilih. Mereka harus mengurangi bekal, menutup lubang, dan kadang membagi makanan agar semua selamat.

Inilah menengah yang turun kelas: menahan konsumsi karena terdesak. Pada kelompok ini, tabungan bukan sedang ditambah, melainkan dipakai untuk menambal defisit harian. Ketika kita hanya membaca angka rata rata, kita seperti kapten yang hanya memeriksa dek atas, lalu menyimpulkan semua penumpang aman.

Menurut dia, kelas menengah adalah mesin konsumsi sekaligus bantalan stabilitas sosial. BPS menegaskan bahwa kelas menengah dan kelompok yang menuju kelas menengah mencakup 66,35 persen penduduk pada 2024 dan porsi konsumsi pengeluaran dari dua kelompok ini mencapai 81,49 persen dari total konsumsi masyarakat. Artinya, kalau segmen ini goyah, ekonomi nasional ikut limbung.

Di sinilah kita perlu jujur membaca sinyal. Berbagai laporan menyoroti menyusutnya kelas menengah. Salah satu media asing justru mencatat porsi kelas menengah turun dari 21,5 persen pada 2019 menjadi 17,1 persen pada 2024.

Angka ini bukan sekadar statistik demografi. Ia menjelaskan mengapa banyak bisnis merasa penjualan tidak lagi segarang dulu, mengapa konsumen melakukan trade down, dan mengapa sektor barang tahan lama mudah tersendat. Mereka tidak miskin sehingga tidak selalu mendapat bantuan, tetapi tidak lagi kuat untuk menjaga konsumsi.

Mereka mulai menunda perawatan kesehatan, mengurangi kualitas pangan, menahan biaya pendidikan tambahan, dan menekan belanja produktif lain yang seharusnya meningkatkan mobilitas sosial. Dalam jangka panjang, ini bukan sekadar isu konsumsi, tetapi isu kualitas manusia.(*/tim redaksi 09)

Mari Simak Coverage Riset Data Spesifik Duniaindustri.com:

Market database
Manufacturing data
Market research data
Market leader data
Market investigation
Market observation
Market intelligence
Monitoring data
Market Survey/Company Survey
Multisource compilation data
Market domestic data
Market export data
Market impor data
Market directory database
Competitor profilling
Market distribution data
Company database/directory
Mapping competition trend
Profiling competitor strategy
Market data analysist
Historical data
Time series data
Tabulation data
Factory directory database
Market segmentation data
Market entry strategy analysist
Big data processor AI (data scarapping multi platform)
Financial Modeling/Feasibility Study
Price trend analysist
Data business intelligence
Customized Direktori Database

* Butuh data spesifik atau riset pasar, total ada 312 database, klik di sini
** Butuh competitor intelligence, klik di sini
*** Butuh copywriter specialist, klik di sini
**** Butuh content provider (branding online), klik di sini
***** Butuh jasa medsos campaign, klik di sini

Database Riset Data Spesifik Lainnya:

  • Butuh data spesifik atau riset pasar, total ada 312 database, klik di sini
  • Butuh 28 Kumpulan Database Otomotif, klik di sini
  • Butuh 18 Kumpulan Riset Data Kelapa Sawit, klik di sini
  • Butuh 20 Kumpulan Data Semen dan Beton, klik di sini
  • Butuh 21 Kumpulan Riset Data Baja, klik di sini
  • Butuh 15 Kumpulan Data Transportasi dan Infrastruktur, klik di sini
  • Butuh 17 Kumpulan Data Makanan dan Minuman, klik di sini
  • Butuh 9 Kumpulan Market Analysis Industri Kimia, klik di sini
  • Butuh 7 Kumpulan Data Persaingan Pasar Kosmetik, klik di sini
  • Butuh competitor intelligence ataupun riset khusus (survei & observasi), klik di sini
  • Butuh copywriter specialist, klik di sini
  • Butuh content provider (online branding), klik di sini
  • Butuh market report dan market research, klik di sini
  • Butuh perusahaan konsultan marketing dan penjualan, klik di sini
  • Butuh menjaring konsumen korporasi dengan fitur customize direktori database perusahaan, klik di sini

Duniaindustri Line Up:

detektif industri pencarian data spesifik

Portofolio lainnya:

Buku “Rahasia Sukses Marketing, Direktori 2.552 Perusahaan Industri”

Atau simak video berikut ini:

Contoh testimoni hasil survei daerah:

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top