Duniaindustri.com (Januari 2026) — Indonesia masih menghadapi tantangan besar untuk menghidupkan kembali pertumbuhan kredit meskipun likuiditas perbankan melimpah dan pemangkasan suku bunga dilakukan secara agresif. Pertumbuhan kredit diperkirakan tetap lesu seiring sikap hati-hati pelaku usaha dan berlanjutnya ketidakpastian kebijakan yang membebani siklus kredit.
Sejak tahun lalu, Bank Indonesia (BI) telah memangkas suku bunga acuannya sebesar 125 basis poin. Fokus BI kini bergeser untuk mendorong perbankan menyalurkan penurunan suku bunga tersebut ke tingkat kredit. Namun, kalangan dunia usaha dan perbankan menilai bahwa kredit murah saja tidak cukup untuk mendorong permintaan pinjaman tanpa adanya kepercayaan yang lebih kuat terhadap prospek ekonomi.
“Daya beli rumah tangga belum sepenuhnya pulih, sehingga masih menuntut kehati-hatian. Hal ini membebani ekspansi bisnis dan kinerja korporasi, berpotensi menekan permintaan kredit serta memengaruhi kualitas pembayaran pinjaman,” ujar Trioksa Siahaan, senior vice-president Indonesian Banking Development Institute.
Walaupun suku bunga kebijakan turun signifikan, suku bunga kredit hanya turun sekitar 15 basis poin. Bank sentral menilai lambatnya transmisi ini disebabkan oleh ketatnya persaingan dana pihak ketiga, di mana bank perlu mempertahankan suku bunga simpanan yang menarik agar likuiditas terjaga. Namun, analis menilai persoalan utamanya bukan sekadar harga kredit.
Pelaksana tugas kepala IFG Progress, Ibrahim Kholilul Rohman, menegaskan bahwa kendala utama pertumbuhan kredit terletak pada sisi permintaan, bukan pasokan. “Bank-bank likuid dan siap menyalurkan kredit, tetapi pelaku usaha menahan diri karena belum jelas arah perekonomian ke depan,” ujarnya.
Tekanan terhadap ekonomi Indonesia meningkat sepanjang 2025 seiring bertambahnya pemutusan hubungan kerja, melemahnya permintaan konsumen, munculnya aksi protes publik, serta ketidakpastian tarif akibat kebijakan proteksionisme perdagangan AS yang membebani sentimen.
Untuk mendorong kembali pertumbuhan kredit, pemerintah pada September menyuntikkan likuiditas sebesar Rp200 triliun (sekitar S$16 miliar) ke sistem perbankan. Langkah ini dipimpin oleh Menteri Keuangan yang baru dilantik saat itu, Purbaya Yudhi Sadewa, yang berjanji menggerakkan kembali ekonomi melalui pelonggaran likuiditas.
Namun, meski ada dorongan likuiditas tersebut, pertumbuhan kredit tetap tertahan di level 7,7% pada November, turun dari 10,79% pada November 2024 dan jauh di bawah target BI sebesar 12%.
Kesenjangan antara likuiditas dan permintaan tercermin dari tingginya kredit yang belum ditarik (undisbursed loans), yang mencapai Rp2.509 triliun pada November tahun lalu, atau sekitar seperlima dari total kredit yang telah disetujui, berdasarkan data BI.
Melihat dampak yang terbatas terhadap penyaluran kredit, Purbaya kemudian menarik kembali dana pemerintah sebesar Rp75 triliun dari perbankan. Langkah ini menandai pergeseran fokus dari dukungan likuiditas menuju belanja fiskal langsung.
Penurunan suku bunga juga belum mampu mendorong konsumsi rumah tangga. Studi IFG Progress hingga akhir 2025 menunjukkan bahwa rumah tangga semakin tidak responsif terhadap perubahan suku bunga, sehingga melemahkan jalur transmisi kebijakan moneter tradisional.
Menurut Ibrahim, temuan ini menunjukkan bahwa pemangkasan suku bunga lebih lanjut atau tekanan tambahan kepada bank untuk menurunkan suku bunga kredit kemungkinan hanya akan berdampak terbatas terhadap pertumbuhan kredit. “Ketika kondisi permintaan lemah tetapi respons kebijakan berfokus pada sisi penawaran, hasilnya adalah ekspansi kredit yang tidak efektif,” ujarnya.(*/berbagai sumber/tim redaksi 09)
Mari Simak Coverage Riset Data Spesifik Duniaindustri.com:
Market database
Manufacturing data
Market research data
Market leader data
Market investigation
Market observation
Market intelligence
Monitoring data
Market Survey/Company Survey
Multisource compilation data
Market domestic data
Market export data
Market impor data
Market directory database
Competitor profilling
Market distribution data
Company database/directory
Mapping competition trend
Profiling competitor strategy
Market data analysist
Historical data
Time series data
Tabulation data
Factory directory database
Market segmentation data
Market entry strategy analysist
Big data processor AI (data scarapping multi platform)
Financial Modeling/Feasibility Study
Price trend analysist
Data business intelligence
Customized Direktori Database* Butuh data spesifik atau riset pasar, total ada 312 database, klik di sini
** Butuh competitor intelligence, klik di sini
*** Butuh copywriter specialist, klik di sini
**** Butuh content provider (branding online), klik di sini
***** Butuh jasa medsos campaign, klik di siniDatabase Riset Data Spesifik Lainnya:
- Butuh data spesifik atau riset pasar, total ada 312 database, klik di sini
- Butuh 28 Kumpulan Database Otomotif, klik di sini
- Butuh 18 Kumpulan Riset Data Kelapa Sawit, klik di sini
- Butuh 20 Kumpulan Data Semen dan Beton, klik di sini
- Butuh 21 Kumpulan Riset Data Baja, klik di sini
- Butuh 15 Kumpulan Data Transportasi dan Infrastruktur, klik di sini
- Butuh 17 Kumpulan Data Makanan dan Minuman, klik di sini
- Butuh 9 Kumpulan Market Analysis Industri Kimia, klik di sini
- Butuh 7 Kumpulan Data Persaingan Pasar Kosmetik, klik di sini
- Butuh competitor intelligence ataupun riset khusus (survei & observasi), klik di sini
- Butuh copywriter specialist, klik di sini
- Butuh content provider (online branding), klik di sini
- Butuh market report dan market research, klik di sini
- Butuh perusahaan konsultan marketing dan penjualan, klik di sini
- Butuh menjaring konsumen korporasi dengan fitur customize direktori database perusahaan, klik di sini
Duniaindustri Line Up:

detektif industri pencarian data spesifik
Portofolio lainnya:

Buku “Rahasia Sukses Marketing, Direktori 2.552 Perusahaan Industri”
Atau simak video berikut ini:
Contoh testimoni hasil survei daerah:





Dunia Industri Pionir Berita dan Komunitas Industri Indonesia


