Latest News
You are here: Home | Otomotif | Astra Butuh Rp 60 Triliun untuk Otomotif Financial Services
Astra Butuh Rp 60 Triliun untuk Otomotif Financial Services

Astra Butuh Rp 60 Triliun untuk Otomotif Financial Services

Duniaindustri.com (November 2013) — Raksasa otomotif di Indonesia, PT Astra International Tbk (ASII), membutuhkan dana sekitar Rp 60 triliun untuk mendukung financial services anak usahanya di segmen otomotif pada 2014. Karena itu, Astra melalui anak usahanya di bidang pembiayaan otomotif akan menerbitkan surat utang (obligasi) sebesar Rp 18 triliun tahun depan.

“Obligasi itu akan diterbitkan anak usaha di bidang pembiayaan, yakni PT Astra Sedaya Finance (ASF), PT Federal International Finance (FIF), PT San Finance, PT Toyota Astra Financial Services (TAF), dan PT Bank Permata Tbk,” kata Direktur Astra International Gunawan Geniusajardja dalam acara investor summit.

Dari total kebutuhan dana sekitar Rp 60 triliun tahun depan, sekitar 30% akan diambil dari kas anak usaha Astra di bidang pembiayaan, sementara 70% dari hasil penerbitan obligasi dan pinjaman sindikasi. “Kebutuhan dana di tahun depan mengikuti pertumbuhan penjualan mobil di tahun depan yang diprediksi belum tumbuh banyak,” ujarnya.

Astra juga akan menggenjot divisi infrastruktur tahun depan, bukan hanya divisi otomotif.Melalui anak usahanya, PT Astratel Nusantara, raksasa konglomerasi bisnis ini akan menggarap proyek pembangkit listrik berkapasitas 2×100 megawatt (MW) di Kalimantan Tengah. Astra akan menggandeng Tata Power.

Di samping itu, Astra juga akan mengembangkan pelabuhan dari hasil akuisisi saham PT Pelabuhan Penajam Banua Taka, pengelola Pelabuhan Eastkal Supply Base di Kalimantan Timur. Nilai akuisisi tersebut mencapai Rp 600 miliar dengan luas lahan 87 hektare (ha).

Astra international menorehkan pendapatan sebesar Rp Rp 141,84 triliun dalam periode sembilan bulan (Januari-September) 2013 atau sekitar Rp 525 miliar per hari. Meski demikian, pendapatan Astra International sebesar Rp 141,84 triliun turun 1% dibanding Januari-September 2012 sebesar Rp143,12 triliun.

Presiden Direktur PT Astra International Tbk Prijono Sugiarto dalam siaran pers mengatakan kinerja perseroan dan anak perusahaan hingga kuartal III 2013 menunjukkan sedikit penurunan dibandingkan periode sama tahun lalu. “Meskipun volume penjualan otomotif dalam kondisi baik, pendapatan perseroan masih dipengaruhi oleh ketatnya kompetisi pada pasar mobil, kenaikan biaya tenaga kerja, serta menurunnya harga komoditas. Kami perkirakan kondisi bisnis hingga akhir tahun 2013 tidak terlalu banyak berubah,” kata dia.

Laba bersih Astra International juga turun pada Januari-September 2013 menjadi Rp13,5 triliun, anjlok 8% dari Rp14,7 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Duniaindustri.com mencatat, dengan laba bersih Rp 13,5 triliun pada sembilan bulan 2013, berarti Astra International menghasilkan laba bersih per hari sebesar Rp 50 miliar.

Nilai bersih aset Astra sebesar Rp1.913 per saham pada tanggal 30 September 2013, atau mengalami peningkatan sebesar sembilan persen dibandingkan periode akhir tahun 2012 sebesar Rp1.759 per saham.

Kegiatan Grup Astra fokus pada enam lini bisnis inti, yaitu divisi otomotif, jasa keuangan, alat berat dan pertambangan, agrobisnis, infrastruktur, dan logistik serta teknologi informasi.

Laba bersih divisi otomotif mengalami penurunan 5% menjadi Rp6,9 triliun. Kemudian laba bersih divisi alat berat dan pertambangan juga turun 23% menjadi Rp2,1 triliun.

Lalu, laba bersih divisi agrobisnis mengalami penurunan sebesar 45% menjadi Rp726 miliar. Dan, laba bersih divisi infrastruktur dan logistik turun sebesar 28% menjadi Rp339 miliar.

Sementara itu, divisi jasa keuangan mengalami kenaikan sebesar 17% menjadi Rp3,3 triliun, diikuti kenaikan laba bersih divisi teknologi dan informasi sebesar Rp101 miliar, naik 23% dibandingkan periode yang sama tahun 2012.

Divisi Otomotif

PT Astra International Tbk melalui kolaborasi dua anak usahanya, PT Toyota Astra Motor dan PT Astra Daihatsu Motor, mendobrak pasar mobil murah ramah lingkungan (LCGC) dengan meluncurkan Agya dan Ayla. Kedua varian baru itu dibanderol mulai Rp 75 juta-Rp 100 juta.

Bahkan, Astra berani meluncurkan varian mobil murah meski aturan pemerintah tentang LCGC belum kelar. menilai hal itu menunjukkan keseriusan Astra untuk berinvestasi pada program ini.

Saat ini pasar mobil di Jakarta mencapai 30% dari pasar Indonesia. Nilai penjualan mobil di Indonesia ditaksir mencapai Rp 165 triliun pada 2013. Duniaindustri.com menghitung nilai penjualan itu berasal dari volume penjualan yang diperkirakan menyentuh 1,1 juta unit dikalikan rata-rata harga mobil Rp 150 juta per unit.

Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) dan Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI), Indonesia dengan penduduk 235 juta jiwa memiliki populasi (kepemilikan) mobil sekitar 6,98 juta atau 34 orang per unit hingga akhir 2010. Sedangkan populasi motor sebanyak 30,11 juta unit atau 8 orang per unit.

Itu berarti, dari 34 orang di Indonesia, terdapat satu orang yang memiliki mobil. Dan dari 8 orang di Indonesia terdapat satu orang yang memiliki motor.

Dibandingkan dengan negara Asean, rasio kepemilikan mobil di Indonesia cukup rendah. Malaysia memiliki rasio kepemilikan mobil tiga banding satu (dari tiga orang terdapat satu yang memiliki mobil), Singapura 7 orang banding satu mobil, Thailand 7 orang banding satu mobil, dan Filipina 32 orang banding satu mobil.

Sedangkan rasio kepemilikan mobil di China 37 orang banding satu mobil, India 68 orang banding satu mobil, dan Jepang dua orang banding satu mobil.

Untuk motor, rasio kepemilikan motor di Indonesia cukup tinggi, dibandingkan negara Asean. Jika Indonesia 8 orang banding satu motor, Malaysia hanya 3 orang banding satu motor, Singapura 32 orang banding satu motor, dan Thailand 4 orang banding satu motor.

Omzet penjualan mobil di Indonesia pada 2010 diperkirakan mencapai Rp 114,6 triliun. Secara volume penjualan mobil sepanjang tahun 2010 menembus angka 764.710 unit.

Angka penjualan mobil secara kuantitas unit itu diperoleh dari data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo). Sedangkan nilai omzet penjualan mobil didapat dari volume penjualan mobil dikalikan rata-rata harga mobil di Indonesia sebesar Rp 150 juta. Rata-rata harga mobil diambil dari nilai tengah harga terendah misalnya Avanza dan Xenia yang mendominasi pasar mobil di Indonesia dibandingkan harga mobil paling tinggi di atas Rp 1 miliar.

Pada tahun lalu, Gaikindo mencatat, Toyota masih menduduki posisi tertinggi dengan total penjualan 280.989 unit, kemudian disusul oleh Daihatsu yang sebesar 118.554 unit, Mitsubishi 106.483 unit, Suzuki 71.210 unit, Honda 61.336 unit, Isuzu 24.012 unit, Nissan Diesel 2.735 unit, Peugeot 177 unit, dan merek lainnya yang sebanyak 99.214 unit.(*/berbagai sumber)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top